Mengaitkan Pemikiran Mengenai Tragedi Kemanusiaan Yang Up To Date Masa Kini Dengan Analisis Asbabunnuzul Qur’an Surah Albaqarah : 216, At – Taubah 38, Al Hujurat 10, Al Maidah 51

Mengaitkan Pemikiran Mengenai Tragedi Kemanusiaan Yang Up To Date Masa Kini Dengan Analisis Asbabunnuzul Qur’an Surah Albaqarah : 216, At – Taubah 38, Al Hujurat 10, Al Maidah 51


Perlu kita Ketahui bahwa “Asbabun Nuzul adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunya Al-Qur’an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.” Begitu pula Asbabun Nuzul tidak bisa diketahui semata-mata dengan akal (rasio), tidak lain mengetahuinya harus berdasarkan riwayat yang shahih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui turunnya Al-Qur’an, atau dari orang-orang yang memahami Asbabun Nuzul, lalu mereka menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan sahabat, tabi’in atau lainnya dengan catatan pengetahuan mereka diperoleh dari ulama-ulama yang dapat dipercaya.

Lalu, bagaimana cara menganalisis Qur’an Surah Albaqarah : 216, At – Taubah 38, Al Hujurat 10, Al Maidah 51 dengan sudut pandang Pemikiran Mengenai Tragedi Kemanusiaan Yang Up To Date Masa Kini? Simak lengkapnya melalui ulasan berikut ini.


1. Al-Baqarah 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ٢١٦

Artinya : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 216)

  • Sebab Turunnya Ayat:

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas mengatakan ketika Allah mewajibkan jihad atas kaum muslimin, mereka merasa keberatan dan tidak suka sehingga turunlah ayat ini.”Berperang merupakan dasar tabiat dari manusia, mengapa kebanyakan dirasa berat karena membutuhkan pengorbanan yang besar yaitu bertaruh nyawa bahkan juga harta. Namun ketidaksukaan ini tidaklah bertentangan dengan kerelaan terhadap apa yang telah dibebankan kepada manusia. Sebagaimana dikatakan Wahbah, bahwa barang kali sesuatu yang dibenci itu mengandung kebaikan dan memberi manfaat di masa depan, sebab peperangan dapat menghasilkan salah satu dari dua kemenangan yaitu rampasan perang maupun mati syahid dengan pahala dan jaminan surga dari Allah. Begitu pula dengan jihad yang merupakan jalan untuk memperjuangan agama Allah, meninggikan hakikat kebenaran, keadilan, dan menentang kedzaliman. Begitu juga dengan tidak mau ikut berperang akan menjadikan kehinaan, kemiskinan dan mendominasi musuh untuk memperoleh harta ghanimah dan kekuasan atas Islam bahkan juga pelecehan yang menghabiskan ummat. Sebab itu mewajibkan peperangan atas kaum muslimin merupakan suatu keniscayaan karena tidak ada jalan lain dalam menghadapi musuh kecuali dengan membunuh, mencerai beraikannya serta menundukkan mereka hingga berhenti menganiaya kaum muslimin.

  • Analisis Pemikiran:

Surat Al-Baqarah Ayat 216 adalah salah satu ayat dalam Surat Al-Baqarah yang memiliki makna mendalam tentang tanggung jawab berjihad dalam Islam. Ayat ini diturunkan di masa awal perkembangan Islam, saat umat Muslim menghadapi banyak tantangan dan ancaman dari orang-orang yang menentang ajaran Islam. Meskipun dianggap sulit dan tidak menyenangkan, kaum Muslim memiliki kewajiban berperang untuk menjaga agama islam. Sebagaimana yang seharusnya kewajiban berperang masih berlaku dimasa sekarang dengan melihat kondisi saudara kita di Palestina. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mewajibkan perang kepada orang-orang beriman untuk melindungi agama dan jiwa mereka. Perintah Allah ini tidak dimaksudkan untuk menyusahkan manusia, karena di baliknya terdapat rahasia-rahasia yang membahagiakan manusia. Allah mengetahui maslahat yang tidak diketahui manusia, sehingga manusia harus menunaikan perintah Allah yang akan membawa kebaikan. Dengan melihat kondisi dimasa kini seharusnya ayat ini cukup menjadi penyemangat dan gairah dalam melakukan jihad untuk saudara-saudara kita, yang mana kewajiban dalam ayat ini masih berlaku dimasa sekarang. 

2. At-Taubah Ayat 38

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ (٣٨)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”. (QS. At-Taubah:38)

  • Sebab Turunnya Ayat:

 Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid bahwasanya ia berkata tentang ayat ini, "Ini ketika mereka diperintahkan untuk pergi dalam Perang Tabuk setelah penaklukkan kota Makkah. Mereka diperintahkan untuk berangkat pada waktu musim panas yang sangat terik, padahal buah-buahan sedang waktunya masak dag mereka ingin berteduh dan merasa sangat berat untuk pergi." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

  • Analisis Pemikiran:

Ketahuilah bahwa banyak ayat di dalam surat yang mulia ini turun pada perang Tabuk, ketika Nabi menyiapkan kaum Muslimin untuk memerangi Romawi, sementara waktu itu adalah musim panas, bekal minim dan kehidupan sulit, maka sebagiam kaum Muslimin meresa berat yang membuat Allah menegur dan mendorong mereka, Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman”, tidakkah kalian tahu tuntunan keimanan dan sebab keyakinan adalah bersegera melaksanakan perintah Allah dan berlomba-lomba menuju ridhaNya, berjihad melawan musuhnya dan memenangkan agamamu?

Setelah Allah menjelaskan kepada orang-orang beriman perkara jihad dan menghilangkan segala alasan yang dapat mereka pakai, kemudian Allah mengolok keengganan mereka untuk berperang bersama Rasulullah: Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan menjalankan syariat-Nya; mengapa jika kalian diseru untuk berjihad di jalan Allah untuk memerangi musuh kalian, kalian berlambat-lambat dan ingin untuk tetap di rumah kalian? Apakah kalian telah ridha dengan kenikmatan dunia yang fana sebagai ganti dari kenikmatan akhirat yang kekal yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya? kenikmatan dunia jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat sangatlah kecil, bagaimana orang yang berakal lebih memilih yang fana daripada yang kekal, dan yang kecil daripada yang besar? Referensi : https://tafsirweb.com/3054-surat-at-taubah-ayat-38.html

Ayat ini menjadi bukti bahwa pada saat itu sifat hubuddunya mengalahkan perintah yang sudah Allah wajibkan, hati mereka menjadi bebal mengenai urusan akhirat, makna dari Surat At-Taubah ayat 38 dalam kondisi masa sekarang adalah untuk tidak lebih mengutamakan kehidupan dunia yang fana daripada kehidupan akhirat yang abadi.

3. Al-Hujurat 10

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ (١٠)

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." ( QS.Al-Hujurat 10 )

  • Sebab turun ayat :

Diriwayatkan oleh Qatadah bahwa ayat ini turun mengenai dua orang lelaki dari golongan Anshar yang terjadi diantara keduanya pertengkaran mengenai hak. Seorang berkata kepada yang lain “Aku benar-benar akan mengambil hakku darimu, meski dengan kekerasan”. Perkataan disampaikan karena membanggakan keluarganya yang banyak. Sedang yang lain mengajaknya agar meminta pengadilan kepada Nabi saw. Namun orang itu tidak mau menurutinya. Oleh karena itu pertengkaran terus berlangsung diantara keduanya sehingga mereka saling mendorang dan sebagian menghantam yang lain dengan tangan atau sandal. Namun, tidak sampai terjadi pertempuran pedang. 

  • Analisis Pemikiran:

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa sesungguhnya orang-orang Mukmin semuanya bersaudara seperti hubungan persaudaraan antara nasab karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal dalam surga. Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan Muslim itu adalah saudara muslim yang lain, jangan berbuat aniaya dan jangan membiarkannya melakukan aniaya. Orang yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah membantu kebutuhannya. Orang yang melonggarkan satu kesulitan dari seorang muslim, maka Allah melonggarkan satu kesulitan di antara kesulitan-kesuliannya pada hari Kiamat. Orang yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi kekurangannya pada hari Kiamat. (Riwayat al-Bukhari dari 'Abdullah bin 'Umar)

Pada hadis sahih yang lain dinyatakan: Apabila seorang muslim mendoakan saudaranya yang gaib, maka malaikat berkata, "Amin, dan semoga kamu pun mendapat seperti itu." (Riwayat Muslim dan Abu ad-Darda') Karena persaudaraan itu mendorong ke arah perdamaian, maka Allah menganjurkan agar terus diusahakan di antara saudara seagama seperti perdamaian di antara saudara seketurunan, supaya mereka tetap memelihara ketakwaan kepada Allah. Mudah-mudahan mereka memperoleh rahmat dan ampunan Allah sebagai balasan terhadap usaha-usaha perdamaian dan ketakwaan mereka. Dari ayat tersebut dapat dipahami perlu adanya kekuatan sebagai penengah untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai.

Makna dari Surat Al-Hujurat ayat 10 di masa kini adalah bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara, dan sebagai muslim, kita wajib saling menjaga tali silaturahmi dan perdamaian. Orang-orang beriman adalah bersaudara, meskipun berbeda suku, negara, dan warna kulit. Persaudaraan ini didasarkan pada keyakinan kepada Allah dan Islam. Allah memerintahkan untuk tidak mencari-cari keburukan orang lain dan tidak menggunjingkan satu sama lain. Begitu juga yang sudah rasul ajarkan kepada umatnya untuk berjiwa sosialis bukan berjiwa introvet atau menyendiri.

4. Al-maidah ayat 51

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ (٥١)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

  • Sebab Turunnya Ayat:

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Al- Baihaqi dari Ubadah bin Shamit bahwasanya ia berkata, "Ketika Bani Qainuqa' menyerang kaum Muslimin, maka Abdullah bin Ubay bin Salul menjadi penengah dalam perkara mereka, lalu Ubadah bin Shamit pergi menuju Rasulullah dan ia ingin menjauh dari perjanjian yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, dan adalah seorang dari Bani Auf pernah memiliki perjanjian seperti yang mereka lakukan pada saat itu memerintahkan mereka untuk menemui Rasulullah dan menjauh dari perjanjian dengan orang-orang kafir dan tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin, lalu ia Ubadah bin Shamit berkata, "Maka ayat ini turun pada orang tersebut dan Abdullah bin Ubay."

  • Analisis Pemikiran:

Allah membimbing hamba-hambaNya yang beriman manakala Dia menjelaskan keadaan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan sifat-sifat buruk mereka agar kaum Muslimin tidak mengangkat mereka sebagai pemimin-pemimpin. Karena sebagian dari mereka adalah “ wali bagi sebagian yang lain.” Mereka saling tolong-menolong dan saling bahu-membahu menghadapi selain mereka. Maka janganlah kamu mengangkat mereka sebagai penolong-penolong, karena mereka adalah musuh yang sebenarnya, mereka tidak mempedulikan penderitaanmu bahkan mereka tidak menghemat energy sedikitpun demi menyesatkanmu. Maka tidak ada yang mengangkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin kecuali orang yang sama seperti mereka.

Oleh karena itu Dia berfirman, “ barang siapa di antara kamu yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” Karena pengangkatan mereka menjadi pemimpin secara total menurut perpindahan kepada agama mereka, loyalitas yang sedikit akan mendorong kepada yang banyak, lalu fase demi fase sehingga seorang hamba menjadi satu dengan mereka.

“ Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-porang yang zhalim,” yakni dengan kezhaliman sebagai sipat, karena kembali kepadanya dan berpijak kepadanya. Jika kamu hadir kepada membawa satu bukti, niscaya mereka tidak akan mengikuti dan menaatimu. Referensi : https://tafsirweb.com/1935-surat-al-maidah-ayat-51.html 

Ayat ini mengandung pesan moral, yaitu: Berteman dengan orang-orang yang bisa dipercaya, Tidak memilih aliansi dan teman yang suka berkhiyanat, Menjaga perjanjian dan kesepakatan bersama, Tidak melakukan kezaliman. Ayat ini diturunkan dalam konteks peperangan, di mana umat Islam harus berhati-hati dalam strategi perang. Ayat ini turun untuk menasehati umat Islam agar tidak meminta bantuan kepada pihak-pihak lain yang belum jelas komitmennya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Asbabunuzul, Asbabul Wurud dan Hadist Yang Perlu di Pahami